Kagumku Pudur dan Melebur


Kagumku Pudur dan Melebur
Oleh : Hj. Nursini Rais
Havanza warna putih itu berhenti pas de depan rumahku. Begitu pintunya dibuka, aku kaget. Ternyata hanya sopir yang duduk di depan . Sedangkan bangku penumpangnya kosong. “Tidak ada penumpang lain, Nak?” tanyaku pada sopir.
“Belum Buk,” jawabnya.
Ngeri juga. Maklum, sepuluh jam perjalanan yang akan ditempuh. Medan yang dilalui pun bervariasi. Hutan, perkebunan rakyat, dan perkampungan. Belum lagi kondisi sebagian jalan yang melilit gunung dengan jurang yang menganga di sisi kiri atau kanannya. Andai terjadi apa-apa, tiada teman untuk berunding.
Timbul keraguan di hati. Serasa ingin membatalkan keberangkatan. Namun mengingat ada sesuatu yang harus diselesaikan, aku mesti berada di Jambi sebelum pukul dua puluh dua nanti malam.

“Ya sudah. Nyawa hanya digenggam Tuhan Allah. Siapa yang mau memperkosa manula begini, kurus kering tak berdaging. Hanya kulit pembalut tulang yang pantas direbus untuk bikin sop.” Aku menghardik semangat.
“Diah …! Catat nomor plat mobil ini!” Jika terjadi sesuatu, sopirnya mudah dilacak,” bisikku pada tetangga sebelah yang ikut menenteng bawaanku masuk bagasi. “Tadi ibu pesan tiket travel Kelinci Putih,” tambahku.
“Ya Bu.” jawab Diah sambil membaca BH Havanza tipe G tersebut. Ketika itu juga ia menoreh-noreh di atas tanah. Mungkin sementara ia mencari pena dan kertas.
Ini adalah efek dari mengorder tiket via telepon. Mau tak mau, suka atau tidak suka, aku harus menerima.

“Bismillaahir rahmaanir rahiim,” gumamku, terus menaiki kaki kanan. Aku menempati jok di belakang sopir. Kulirik arloji di tangan. Pukul sepuluh lebih empat menit. Roda berputar, mobil pun berangkat meninggalkan tanah tempatnya berpijak.
Mulai saat itu, aku membaca Qulhu dan Zikir, belanjut dengan ayat kursi, terus ayat apa saja yang kuhafal. Dalam hati kuselipkan pula doa, mohon keselamatan dalam perjalanan.
Sebentar-sebentar Sopir tersebut memperhatikan gerak-gerikku melalui kaca monitor. Tanpa sengaja beberapa kali aku juga membalas tatapannya .
Mungkin dia membaca kekhawatiranku. Kira-kira dua puluh menit berjalan dia mulai menyapa. Menanyakan banyak hal tentang aku. Semisal di Jambi tinggal di mana, di rumah siapa, dan seterusnya. Aku pun leluasa menanyakan prihal dia. Dari percakapan saat itu aku tahu bahwa isterinya seorang bidan desa. Punya anak satu.
Kekhawatiranku tidak terbukti. Ternyata orangnya santun, ramah, dan ganteng pula. Kulit dan kukunya putih bersih. Hatiku berbisik, “Barangkali dia seorang mahasiswa baru selesai kuliahan.”


Sepanjang perjalanan dia meneriaki setiap orang yang berdiri di pingir jalan. “Jambi … Jambi … Jambi ...!” Namun, tak seorang pun yang memberikan jawaban iya.
Timbul perasaan iba padanya. Jauh-jauh menyetir mobil kosong, mengeluarkan biaya untuk beli bensin. Aku membayangkan kalau dia itu anakku sendiri. Mencari penumpang demi sesuap nasi , untuk menafkahi anak bini.
Beberapa kilometer sebelum memasuki kota Bangko, Handphon-nya berdering.
“Hallo …” Pria dua puluhan tahun itu merespon.
“Hallo …! He he he.” Lantang suara wanita kudengar. Diselingi pula seruan si kecil, “Papa …. Pa …!” Siapa lagi kalau bukan isteri dan anaknya tercinta.
Allaahu akbar. Dadaku berdesir. Naluri keibuanku berdenyut pedih. Pria itu menjawab kasar. Semua hewan di Taman Rimbo dan Rawa Mangun dia panggil untuk mencerca isterinya tatkala itu. Dari kemarahannya aku tahu, sebelumnya si isteri tidak menggangkat telepponnya. Padahal sudah berulang-ulang dia nelephon.
Sang isteri tetap menjawab lembut, “Maafkan Mama, Pa. Tadi Handphonnya dalam tas. Tak kedengaran. Makanya Mama telepon ulang.”
“Taik, lho. Bla bla bla.” Dan yang membuat aku semakin sedih, dia menuding isterinya pelacur, ada main dengan laki-laki lain. Makanya dia tidak mau mengangkat telepon suaminya.
Kekagumanku padanya yang tadi membara, kini pudur dan melebur. Dalam lirih aku berdoa, “Tuhan …. Jauhkanlah anak keturunanku dari laki-laki setipe ini!”

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Bottom Ad (728x90)

Delivered by FeedBurner